HANA SI HATI BAJA
Angin yang dengan tulus
menghembuskan nafasnya, awan yang sering dengan tiba-tiba menampakkan muka
murungnya hingga langit menetes dengan sendirinya namun tak pernah ada pelangi
tesenyum di atas langit yang indah itu. Begitupun gambaran wajah sesosok gadis
yang setiap harinya sllu berusaha ingin tersenyum namun tak bisa.
Hana adalah sesosok gadis desa yang
terlahir dikeluarga yang sederhana , dia mempunyai keluarga yang masih lengkap
yaitu ayah,ibu dan mempunyai 3 kakak . namun apalah arti kelengkapan itu jika
semuanya hanya sibuk dengan kesibukannya masing-masing.
pagi itu..
saat hana baru memulai duduk
dibangku sekolahan, hana pertama kali sekolah di TK SODIKIN PARJA(Taman
Kanak-kanak), semua anak yang masuk sekolah selalu didampingi dengan kedua orng
tuanya kecuali hana. Hana yang hanya bisa melihat bagaimana sesosok kasih
sayang seorang ibu itu melalui tingkah laku ibu dari teman-temannya, bekal
makanan yang selalu disiapkan oleh seorang ibu, seperangkat alat tulis yang
selalu disiapkan untuk anaknya, dan
tuntunan lembut yang selalu tergenggam lembut penuh kesabaran dari sang ibu
beserta motivasi penyemangat untuk anak-anaknya. Hana yang hanya bisa terdiam
tak tau harus bagaimana dya memulai untuk menulis sedangkan alat-alat tulis
yang ia bawa tidak selengkap yang teman-temannya bawa ,dya hanya membawa sebuah
buku dan pensil tanpa membawa penghapus.
kesendiriannya membuat mata seorang
guru tertuju padanya dan menghampirinya, dan guru tersebut tanpa bertanya namun
langsung mengatakan “semua ibu didunia ini pasti menginginkan dan memberikan yang
terbaik untuk kebahagiaan anaknya namun caranya mereka yang berbeda-beda ”,hana
menatap guru tersebut dengan mata yang penuh genangan air mata dan seraya
berkata “ibu guru bolehkan hana memeluk ibu?” dan guru tersebut tanpa
menjawabnya langsung memeluk hana dengan meneteskan air mata dibaju hana yang
kusut itu.
Buguru kembali mengajar didepan
kelas dan proses belajar pun dimulai, materi yang pertama kali guru tersebut
ajarkan adalah menulis angka 0 sebanyak 10 baris guna untuk membiasakan seorang
anak mampu memegag pensil,bagi kita menulis angka 0 sangat lah mudah namun
tidak dengan anak balita yang jari lentiknya baru pernah merasakan memegang
pensil. Goresan demi goresan terukir di dalam buku tulis hana, tapi goresan
tersebut berkali-kali tidak membentuk angka 0 hingga dia harus sering meminjam
penghapus kepada temannya sampai-sampai temannya kesal penghapusnya di pinjam
sama hana, dan teman-temannya tak mau lagi meminjamkannya.
“semangat nak
,ayok coba lagi ibu bantu ya nak” kata yang terlontar dari seorang ibu salah
satu teman hana. Kata yang terdengar itu terkadang membuat hati hana bergetar
,ia sangat merindukan sesosok seorang ibu namun kedaan yang memaksanya untuk
selalu berusaha melakukannya sendiri.Bendungan air mata yang selalu ia tahan didalam
kelopak matanya , bibir yang selalu berusaha tersenyum namun tak bisa,dan dahi yang sellu mengkerut. Hana menunduk
sejenak dan merenung didalam hatinya ia berkata “aku gak boleh lemah dan aku
harus terus berusaha , demi ayah dan ibu yang udh mati-matian nyari nafkah
sampai rela berkorban waktunya demi membiayai sekolah aku, ayah..ibu.. hana
janji akan terus belajar yang rajin supaya menjadi anak yang cerdas dan membuat
ayah&ibu bangga”.
Dengan
menggenggam erat pensilnya ia mencoba lagi menggoreskan pensilnya tetapi sebelum
membentuk 0 dia diuji kembali yaitu pensilnya patah, namun anak mungil itu
tidak putus asa dia berusaha mengeruk pensilnya kembali dengan alat pengerok yg
dia pinjem punya temannya. Kegagalan yang terus ia alami tak pernah menyurutkan
semangat belajarnya, ia kembali mencoba dengan lebih berhati-hati lagi dan
akhirnya hana mampu menyelesaikan nya sendiri tanpa bantuan siapapun tidak
seperti teman-teman hana lainnya yang dibantu oleh ibunya. Usaha tak pernah
menghianati hasil hanya hana yang mendapatkan nilai bintang dua, teman teman
hana hanya mendapatkan bintang satu.
Kringggggg..
kringggggg..telolet....
Pertanda proses
belajar sudah selesai dan waktunya kembali kerumah masing-masing.
Semua anak digandeng oleh ibunya
kecuali hana, hana hanya bisa melihat pemandangan yang indah itu tanpa bisa
merasakannya, hana selalu berdoa supaya nanti hana bisa seperti teman-temannya
yang lain.
Saat hana kembali kerumah hana
berharap semua keluarganya ada dan bisa meluangkan waktu untuk mendengar cerita
dya hari pertama sekolah, namun yang nampak terlihat seperti biasanya ibunya
belum datang dari sawah dan kedua kkanya belum pulang sekolah karena mengikuti
kegiatan sekolahnya. Dia duduk didepan pintu dan memandangi induk ayam dengan 4
anaknya, dia membayangkan kalau keluarganya seperti ayam tersebut tanpa ayah yg
tak pernah berada dirumah karena mencari nafkah namun keadaan ayam tersebut
lebih baik dari kehidupannya karena mereka selalu bersama-sama tidak seperti
keluarganya yang hanya bisa bersama jika mereka beristirahat malam hari.
Hana mempunyai tetangga yang sebaya
dengannya yaitu bernama Putri, dya bersekolah di sekolah yang sama yaitu di TK Sodikin
Parja. Putri merupakan anak bungsu di dalam kluarga tersebut sehingga tidak
heran jika orang tuanya selalu memberikan perhatian lebih sampai sekolahpun
selalu diantarkan. Berbanding terbalik dengan hana yang tak pernah sekalipun
dya diantarkan oleh orang tuanya, kehidupannya yang tidak seberuntung Putri membuatnya
harus mandiri dan mengajarkannya tentang bagaimana harus terus melangkah untuk
meraih pendidikannya. Jatuh bangun dya rasakan sendiri tanpa uluran tangan
siapapun bahkan terlalu banyak goresan luka yang ia balut sendiri dengan
kesabarannya.
Identitas
penulis
Nama lengkap : Yana
IG : @Yanna_baae
Youtube : @yanabae615