Minggu, 05 Februari 2023

Karya Sastra_Cerpen_Hana si Hati Baja

 

HANA SI HATI BAJA

 

            Angin yang dengan tulus menghembuskan nafasnya, awan yang sering dengan tiba-tiba menampakkan muka murungnya hingga langit menetes dengan sendirinya namun tak pernah ada pelangi tesenyum di atas langit yang indah itu. Begitupun gambaran wajah sesosok gadis yang setiap harinya sllu berusaha ingin tersenyum namun tak bisa.

            Hana adalah sesosok gadis desa yang terlahir dikeluarga yang sederhana , dia mempunyai keluarga yang masih lengkap yaitu ayah,ibu dan mempunyai 3 kakak . namun apalah arti kelengkapan itu jika semuanya hanya sibuk dengan kesibukannya masing-masing.

pagi itu..

            saat hana baru memulai duduk dibangku sekolahan, hana pertama kali sekolah di TK SODIKIN PARJA(Taman Kanak-kanak), semua anak yang masuk sekolah selalu didampingi dengan kedua orng tuanya kecuali hana. Hana yang hanya bisa melihat bagaimana sesosok kasih sayang seorang ibu itu melalui tingkah laku ibu dari teman-temannya, bekal makanan yang selalu disiapkan oleh seorang ibu, seperangkat alat tulis yang selalu disiapkan untuk anaknya,  dan tuntunan lembut yang selalu tergenggam lembut penuh kesabaran dari sang ibu beserta motivasi penyemangat untuk anak-anaknya. Hana yang hanya bisa terdiam tak tau harus bagaimana dya memulai untuk menulis sedangkan alat-alat tulis yang ia bawa tidak selengkap yang teman-temannya bawa ,dya hanya membawa sebuah buku dan pensil tanpa membawa penghapus.

            kesendiriannya membuat mata seorang guru tertuju padanya dan menghampirinya, dan guru tersebut tanpa bertanya namun langsung mengatakan “semua ibu didunia ini pasti menginginkan dan memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan anaknya namun caranya mereka yang berbeda-beda ”,hana menatap guru tersebut dengan mata yang penuh genangan air mata dan seraya berkata “ibu guru bolehkan hana memeluk ibu?” dan guru tersebut tanpa menjawabnya langsung memeluk hana dengan meneteskan air mata dibaju hana yang kusut itu.

            Buguru kembali mengajar didepan kelas dan proses belajar pun dimulai, materi yang pertama kali guru tersebut ajarkan adalah menulis angka 0 sebanyak 10 baris guna untuk membiasakan seorang anak mampu memegag pensil,bagi kita menulis angka 0 sangat lah mudah namun tidak dengan anak balita yang jari lentiknya baru pernah merasakan memegang pensil. Goresan demi goresan terukir di dalam buku tulis hana, tapi goresan tersebut berkali-kali tidak membentuk angka 0 hingga dia harus sering meminjam penghapus kepada temannya sampai-sampai temannya kesal penghapusnya di pinjam sama hana, dan teman-temannya tak mau lagi meminjamkannya.

“semangat nak ,ayok coba lagi ibu bantu ya nak” kata yang terlontar dari seorang ibu salah satu teman hana. Kata yang terdengar itu terkadang membuat hati hana bergetar ,ia sangat merindukan sesosok seorang ibu namun kedaan yang memaksanya untuk selalu berusaha melakukannya sendiri.Bendungan air mata yang selalu ia tahan didalam kelopak matanya , bibir yang selalu berusaha tersenyum namun tak bisa,dan  dahi yang sellu mengkerut. Hana menunduk sejenak dan merenung didalam hatinya ia berkata “aku gak boleh lemah dan aku harus terus berusaha , demi ayah dan ibu yang udh mati-matian nyari nafkah sampai rela berkorban waktunya demi membiayai sekolah aku, ayah..ibu.. hana janji akan terus belajar yang rajin supaya menjadi anak yang cerdas dan membuat ayah&ibu bangga”.

            Dengan menggenggam erat pensilnya ia mencoba lagi menggoreskan pensilnya tetapi sebelum membentuk 0 dia diuji kembali yaitu pensilnya patah, namun anak mungil itu tidak putus asa dia berusaha mengeruk pensilnya kembali dengan alat pengerok yg dia pinjem punya temannya. Kegagalan yang terus ia alami tak pernah menyurutkan semangat belajarnya, ia kembali mencoba dengan lebih berhati-hati lagi dan akhirnya hana mampu menyelesaikan nya sendiri tanpa bantuan siapapun tidak seperti teman-teman hana lainnya yang dibantu oleh ibunya. Usaha tak pernah menghianati hasil hanya hana yang mendapatkan nilai bintang dua, teman teman hana hanya mendapatkan bintang satu.

 

Kringggggg.. kringggggg..telolet....

Pertanda proses belajar sudah selesai dan waktunya kembali kerumah masing-masing.

            Semua anak digandeng oleh ibunya kecuali hana, hana hanya bisa melihat pemandangan yang indah itu tanpa bisa merasakannya, hana selalu berdoa supaya nanti hana bisa seperti teman-temannya yang lain.

            Saat hana kembali kerumah hana berharap semua keluarganya ada dan bisa meluangkan waktu untuk mendengar cerita dya hari pertama sekolah, namun yang nampak terlihat seperti biasanya ibunya belum datang dari sawah dan kedua kkanya belum pulang sekolah karena mengikuti kegiatan sekolahnya. Dia duduk didepan pintu dan memandangi induk ayam dengan 4 anaknya, dia membayangkan kalau keluarganya seperti ayam tersebut tanpa ayah yg tak pernah berada dirumah karena mencari nafkah namun keadaan ayam tersebut lebih baik dari kehidupannya karena mereka selalu bersama-sama tidak seperti keluarganya yang hanya bisa bersama jika mereka beristirahat malam hari.

            Hana mempunyai tetangga yang sebaya dengannya yaitu bernama Putri, dya bersekolah di sekolah yang sama yaitu di TK Sodikin Parja. Putri merupakan anak bungsu di dalam kluarga tersebut sehingga tidak heran jika orang tuanya selalu memberikan perhatian lebih sampai sekolahpun selalu diantarkan. Berbanding terbalik dengan hana yang tak pernah sekalipun dya diantarkan oleh orang tuanya, kehidupannya yang tidak seberuntung Putri membuatnya harus mandiri dan mengajarkannya tentang bagaimana harus terus melangkah untuk meraih pendidikannya. Jatuh bangun dya rasakan sendiri tanpa uluran tangan siapapun bahkan terlalu banyak goresan luka yang ia balut sendiri dengan kesabarannya.

 

 05 Februari 2023

Identitas penulis

Nama lengkap        : Yana

IG                            : @Yanna_baae

Youtube                    : @yanabae615


Karya Sasta_Puisi_Penantian

                                                     PENANTIAN

 

Beribu bintang bercahaya menghampiri hidupku

Namun enggan untuk aku melihatnya

Karena semua hanya datang dalam gelapku

Dan tak akan pernah bertahan dalam terangku

Cukup satu bintang yang ku inginkan

Dia yang selalu bersinar terang dalam dukaku

Dia Yang selalu menghiasi canda tawaku

Dan dia yang tak akan pernah pergi walau datang beribu bintang yang lebih terang dihidupku 

Dalam diam aku berpikir

Dalam diam aku merenung 

Dalam diam hatiku bertanya  

Kapan waktu itu datang ???

Waktu yang selalu dinanti 

Waktu yang selalu didambakan

Waktu yang selalu ditunggu-tunggu

Setiap insan manusia


Tuhan...

Aku rindu

Sungguh aku merindukannya

Bahkan sangat merindukannya

Sesosok pendamping ibadah dalam hidupku

Dia...

Yang hadir dengan sejuta kekurangan dan kelebihan

Yang hadir Membawa janji sehidup semati

Yang selalu meminjamkan telinganya

Untuk mendengarkan keluh kesahku

Yang selalu meminjamkan bahunya 

Untuk menyandarkan semua bebanku

Yang selalu mengulurkan tangannya 

Untuk menggenggam erat semua masalahku

Yang selalu mempersiapkan lututnya

Untuk menopang dalam jatuhku

Yang selalu berusaha melukis

Senyuman indah di wajahku

Yang selalu memberi pelangi

Untuk mewarnai hari-hariku

Yang selalu berucap manis 

Tanpa mengeluarkan kata pahit

Tak pernah kuharapkan sesosok yang sempurna

Karena dengannya hidupku menjadi sempurna Tuhan...

Aku yang selalu dihadapkan pada hayalan

Aku yang selalu didatangkan janji kepalsuan

Dan aku yang selalu disandingkan sebuah harapan

Yang akhirnya selalu mempertemukanku dengan pedihnya kekecewaan


Waktu yang terus berputar

Tak pernah henti untuk mengingatkan

Bahkan tak pernah lelah memberi tahu 

Tentang diriku yang kini menua dan tak muda lagi

 

Cemoohan,bullyan dan hinaan

Semua kuterima dengan senyuman

Semua kesimpan sebagai penguat

Rapuhnya kesabaran hati

Sesekali terkadang lelah menghampiri

Membuatku ingin mengakhiri

Sebuah pedih yang tak kunjung henti

Yang selalu membuatku tersakiti

Ingin sekali kupejamkan mata ini

Tanpa harus aku melihat kenyataan ini

Dan ingin sekali rasanya ku berlari

Melewati jeda panjang penantian ini

Sekuat apapun hati Untuk bersabar

Pasti akan ku temukan titik akhir lelahku ini

Dimana yang ku inginkan hanyalah dia 

Untuk memberi ku kehidupan kembali

 

Seni yang indah dalam penantian adalah berdoa

Hanyalah dengan doa yg bisa membawanya untukku

Dan aku yang tengah memantaskan diri untuk bersanding dengan nya 

Hingga akhirnya waktu itu tiba.

 

 


 

 By: yana bae